Public Speaking Bekali 72 Siswa SMKN 8 Jakarta
- account_circle Ato
- calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta – Sebanyak 72 siswa SMK Negeri 8 Jakarta mengikuti workshop public speaking untuk memperkuat kepercayaan diri, komunikasi, dan personal branding, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Nurlina Rahman, S.Pd., M.Si., dosen UHAMKA sekaligus praktisi public speaking dan pewara profesional.
Workshop bertajuk “Strategi Pengembangan Kompetensi Personal Branding dalam Retorika Public Speaking” itu menyasar siswa kelas X dan XI jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL).
Sekolah menggelar pelatihan tersebut untuk membantu peserta mengenali potensi, membangun citra positif, serta mengasah kemampuan komunikasi menghadapi dunia pendidikan dan pekerjaan.
Kegiatan berlangsung di SMK Negeri 8 Jakarta dengan menggabungkan pemaparan materi, diskusi, latihan vokal, teknik pernapasan, dan praktik berbicara.
Kepala SMKN 8 Jakarta, Siti Rustini, M.Pd., menegaskan bahwa sekolah perlu memberi ruang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan di luar kompetensi akademik.
Menurut Siti, pengalaman mengikuti workshop dapat memperkaya kemampuan siswa ketika menghadapi berbagai situasi yang membutuhkan komunikasi secara efektif.
“Sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang bagi siswa mengembangkan potensi, pengalaman, dan kemampuan diri,” ujar Siti.
Ia menilai kemampuan komunikasi memiliki peran penting karena siswa perlu menyampaikan gagasan, membangun relasi, berdiskusi, dan berinteraksi dengan lingkungan.
Karena itu, Siti berharap siswa menerapkan materi workshop dalam kegiatan sekolah maupun kehidupan sehari-hari secara konsisten.
Komunikasi Lengkapi Kompetensi Teknologi
Ketua Program Keahlian Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG), Hasan Bakri Usman Lamatungga, menilai keterampilan komunikasi harus berjalan seiring kemampuan teknis siswa RPL.
Menurut Hasan, siswa RPL banyak bekerja dengan teknologi dan perangkat lunak sehingga kemampuan menyampaikan gagasan menjadi kompetensi pendukung yang penting.
Kemampuan tersebut, lanjutnya, dapat membantu siswa ketika melakukan presentasi, berdiskusi dengan tim, berkomunikasi dengan klien, maupun menjelaskan produk teknologi.
Selanjutnya, Nurlina mengajak peserta memahami bahwa public speaking tidak sekadar keberanian tampil di hadapan banyak orang.
Ia menekankan pentingnya kemampuan mendengarkan sebelum seseorang menyampaikan pesan kepada audiens.
“Salah satu kunci sukses komunikasi adalah banyak mendengarkan, mendengarkan bukan hanya dengan telinga tapi juga dengan hati dan pikiran,” kata Nurlina.
Menurut Nurlina, kemampuan mendengarkan membantu seseorang menganalisis, memahami, dan memaknai pesan verbal maupun nonverbal.
Ia kemudian menghubungkan kemampuan tersebut dengan personal branding sebagai proses mengenali karakter, nilai, pengalaman, dan keunikan diri.
Personal branding yang kuat, menurut Nurlina, dapat meningkatkan kepercayaan, memperluas jaringan, serta membuka peluang pendidikan dan pekerjaan.
Namun, ia mengingatkan bahwa citra diri harus berjalan bersama kemampuan nyata dan rekam jejak yang dapat dipertanggungjawabkan.
Bangun Kepercayaan Diri Melalui Latihan
Dalam sesi pengembangan diri, Nurlina mendorong siswa mengenali kelebihan sekaligus keterbatasan masing-masing.
Ia mengajak peserta memperbaiki pola pikir, menggali potensi, serta menyusun rencana pengembangan diri secara terarah.
Menurutnya, konsep diri positif terlihat melalui kejujuran, keterbukaan, kreativitas, kemampuan bersosialisasi, dan ketangguhan menghadapi tantangan.
Selain itu, Nurlina menjelaskan bahwa profesionalisme pada era digital membutuhkan keseimbangan antara kompetensi, karakter, komunikasi, dan reputasi.
Ia juga memperkenalkan retorika sebagai kemampuan menyampaikan gagasan melalui berbagai bentuk komunikasi kepada khalayak.
Bentuknya antara lain pidato, presentasi, sambutan, kampanye, ceramah, dakwah, orasi, debat, sosialisasi, hingga menjadi pewara atau master of ceremony.
Nurlina kemudian menggali pengalaman peserta dalam berbicara di depan publik melalui berbagai kegiatan sekolah.
Sejumlah siswa mengaku pernah membawa doa, menjadi pembawa acara, serta membacakan Undang-Undang Dasar 1945 ketika mengikuti upacara.
Pengalaman tersebut menjadi modal awal bagi peserta untuk meningkatkan kemampuan komunikasi melalui latihan yang lebih terarah.
Nurlina juga memperkenalkan istilah glossophobia, yakni rasa takut atau cemas ketika seseorang harus berbicara di depan banyak orang.
Ia menjelaskan bahwa keberanian tidak muncul secara instan, melainkan tumbuh melalui latihan yang konsisten dan pengalaman berulang.
Karena itu, ia mendorong siswa aktif menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, memberikan gagasan, dan berbicara dalam forum.
Kebiasaan tersebut dapat membantu siswa mengurangi rasa gugup sekaligus menemukan potensi komunikasi yang selama ini belum berkembang.
Kuasai Materi dan Kenali Audiens
Dalam materi retorika, Nurlina menekankan pentingnya penguasaan materi serta pemahaman terhadap karakter audiens.
Ia mengingatkan peserta bahwa pembicara harus mampu menjaga perhatian audiens agar pesan tidak kehilangan daya tarik.
“Mempertahankan audiens adalah hal yang sulit, jadi menghargai itu adalah cara yang paling sederhana,” jelas Nurlina.
Menurutnya, pembicara perlu menghargai audiens, menguasai materi, membangun suasana, dan menyesuaikan penyampaian dengan kondisi forum.
Setelah mengikuti materi, peserta langsung mempraktikkan teknik public speaking melalui latihan vokal dan pernapasan.
Selanjutnya, siswa tampil berbicara di hadapan peserta lain untuk menguji keberanian sekaligus menerapkan teknik yang mereka pelajari.
Puti Wulandari, siswa RPL, mengaku memperoleh pengalaman berkesan karena materi tersampaikan secara mudah dan suasana pelatihan terasa menarik.
“Saya kagum dengan cara Ibu berbicara yang percaya diri dan bisa membuat suasana menjadi menarik,” ujar Puti.
Sementara itu, Raisyaqia Almira Putri Darmawan, siswa kelas XI RPL, menilai praktik langsung membuat materi lebih mudah dipahami.
“Saya mendapatkan banyak pengalaman baru setelah mengikuti pelatihan public speaking,” ungkap Raisyaqia.
Callysta Ramadhani, siswa kelas XI RPL, mengaku sempat gugup ketika mengikuti praktik berbicara di depan peserta lainnya.
Namun, pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa kemampuan public speaking membutuhkan proses, kesungguhan, dan latihan berkelanjutan.
Workshop ini sekaligus memperkuat pembelajaran siswa RPL yang selama ini berfokus pada kompetensi teknologi dan perangkat lunak.
Kemampuan komunikasi dapat membantu siswa menjelaskan gagasan, mempresentasikan karya, bekerja dalam tim, dan berinteraksi dengan calon pengguna.
SMKN 8 Jakarta sebelumnya juga menggelar pelatihan public speaking untuk siswa Program Studi Usaha Layanan Wisata dengan Nurlina sebagai narasumber.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah berupaya memperluas pengalaman siswa agar mampu mengembangkan kompetensi teknis sekaligus kemampuan personal.
Dengan demikian, public speaking dan personal branding menjadi bekal tambahan bagi siswa dalam menghadapi pendidikan lanjutan maupun persaingan dunia kerja.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh Ato
Ato adalah Redaktur TitikPublik.com yang bertanggung jawab dalam proses penyuntingan dan penyajian berita agar tetap faktual, berimbang, akurat, serta sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers.
