Tradisi Berebut Telur Meriahkan Maulid Nabi di Pejagalan Jakarta Utara
- account_circle Ato
- calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta Utara – Tradisi berebut telur hias dan uang menjadi puncak kemeriahan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pejagalan, Jakarta Utara, Sabtu (5/9/2026).
Warga memadukan syiar keagamaan dengan tradisi masyarakat dalam perayaan di Musala Al-Ikhlas, Jalan Inspeksi Kali Duri, Air Baja.
Kegiatan tersebut berlangsung di RT 06/RW 016, Pejagalan, dengan melibatkan warga dari berbagai latar belakang daerah dan budaya.
Rangkaian acara diawali lantunan shalawat, pembacaan Maulid Nabi, serta tausiah yang mengajak jamaah meneladani akhlak Rasulullah SAW.
Setelah acara keagamaan berakhir, perhatian warga beralih menuju sejumlah pohon dekorasi yang telah dihiasi telur dan uang.
Anak-anak menjadi kelompok paling antusias ketika panitia membuka kesempatan untuk mengikuti tradisi perebutan tersebut.
Tawa dan sorak warga kemudian memenuhi lokasi ketika mereka berusaha mengambil telur hias serta uang dari dekorasi.
Suasana itu menghadirkan wajah berbeda dari perayaan Maulid yang sebelumnya berlangsung khidmat dan penuh nuansa keagamaan.
Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut memiliki makna lebih luas karena mempertemukan unsur agama, budaya, dan kebersamaan warga.
Tradisi Mandar Bertemu Keberagaman Warga
Tokoh masyarakat sekaligus pengurus Laskar Merah Putih, Jamaluddin atau Daeng Jamal, menyebut perayaan tersebut memiliki keunikan tersendiri.
“Yang pasti, ini kegiatan peringatan Maulid Nabi yang sangat unik. Acara maulid ini dihiasi dengan berbagai macam kolaborasi,” ujar Daeng Jamal.
Menurutnya, tradisi Mandar dari Sulawesi Barat cukup kuat mewarnai pelaksanaan Maulid Nabi di lingkungan tersebut.
Namun, warga keturunan Jawa, Sunda, Sumatera, dan daerah lainnya turut mengambil bagian dalam perayaan tersebut.
“Ada Jawa, Sunda, Sumatera, dan lainnya. Kolaborasi ini menjadi unik dan lain daripada yang lain,” katanya.
Daeng Jamal menilai keberagaman tersebut justru memperlihatkan kuatnya hubungan sosial masyarakat di tengah kehidupan Jakarta.
Menurutnya, perbedaan latar belakang tidak menghalangi warga untuk berkumpul dan merayakan momentum keagamaan secara bersama.
“Saya rasa kegiatan maulid ini bukan hanya sekadar memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW, tetapi membangkitkan kembali semangat yang bisa mempererat persaudaraan.”
Ia juga menilai kegiatan tersebut dapat memperkuat rasa persatuan masyarakat yang hidup jauh dari daerah kelahiran.
Dengan demikian, Maulid Nabi tidak hanya menghadirkan kegiatan keagamaan, tetapi juga membuka ruang interaksi antarwarga.
Merawat Warisan Budaya di Tanah Rantau
Daeng Jamal menilai masyarakat perlu menjaga adat dan tradisi meskipun mereka telah meninggalkan daerah asal untuk menetap di perantauan.
Menurutnya, warisan leluhur dapat menjadi penghubung antara generasi sekaligus memperkenalkan budaya kepada lingkungan yang lebih luas.
“Sehebat apa pun kita di tanah rantau, sesukses apa pun kita di tanah rantau, tetap ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan.”
Hal yang dimaksud, kata Daeng Jamal, ialah adat istiadat dan tradisi yang berasal dari tanah kelahiran.
Ia juga mengapresiasi gotong royong warga dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan Maulid Nabi tersebut.
Menurutnya, masyarakat mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, serta biaya untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai rencana.
“Saya lihat luar biasa. Mereka berurunan, berpatungan. Bukan soal finansial saja yang mereka korbankan, tetapi juga tenaga, pikiran, dan waktu,” katanya.
Semangat tersebut memperlihatkan bahwa warga memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan tradisi sekaligus kegiatan keagamaan di lingkungan mereka.
Tausiah Tekankan Akhlak Rasulullah
Sebelum tradisi berlangsung, jamaah mengikuti tausiah Ustaz Aris Kurniawan Al-Ghifari yang mengangkat keteladanan Rasulullah SAW.
Ustaz Aris mengajak jamaah mengambil akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Jangan pernah takut untuk mencontoh Nabi. Ambillah akhlakul karimah Nabi,” ujar Ustaz Aris.
Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menjalankan berbagai peran dalam kehidupan, termasuk sebagai pedagang dan pemimpin.
Menurutnya, Rasulullah juga menunjukkan kemampuan diplomasi serta keberanian dalam menjalankan tanggung jawab kepemimpinan.
“Rasulullah itu orangnya diplomatis. Beliau juga pedagang dan beliau juga memimpin perang. Jadi jangan pernah takut kalau diri kita ingin mencontoh Nabi,” katanya.
Ustaz Aris kemudian membuat suasana tausiah lebih cair melalui interaksi langsung dengan jamaah.
Ia memberikan sejumlah pertanyaan kepada bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Pembahasan mengenai kehidupan Rasulullah SAW bersama Aisyah RA bahkan memancing beragam jawaban dan tawa jamaah.
Ustaz Aris juga menyiapkan hadiah bagi jamaah yang berhasil menjawab pertanyaan selama sesi interaktif.
Berebut Telur Jadi Tradisi yang Dinanti
Usai seluruh rangkaian utama, warga berkumpul di sekitar pohon dekorasi yang telah disiapkan panitia.
Telur hias yang menggantung pada dekorasi menjadi daya tarik utama, terutama bagi anak-anak yang menunggu tradisi tersebut.
Daeng Jamal menyebut perebutan telur selalu menjadi bagian yang paling masyarakat nantikan dalam perayaan Maulid Nabi.
“Yang menjadi akhir dari cerita dan keunikan acara maulid ini adalah sesuatu yang selalu ditunggu-tunggu, yaitu perebutan telur,” katanya.
Ia mengaku tradisi tersebut mengingatkannya pada pengalaman masa kecil ketika mengikuti perayaan serupa di kampung halaman.
“Saya juga pernah merasakan ketika masih kecil, berebut telur, cucur, ketupat, dan lain sebagainya,” kenangnya.
Selain telur, panitia juga memasang atau menyelipkan sejumlah uang pada bagian tertentu dari dekorasi.
Warga kemudian berebut mendapatkan uang tersebut bersama telur hias yang tersedia.
Nominal uang bervariasi, mulai dari pecahan kecil hingga pecahan yang lebih besar.
Namun, warga tidak menjadikan nilai uang sebagai tujuan utama dalam tradisi tersebut.
Kehadiran uang justru menambah keseruan dan membuat suasana perebutan semakin meriah.
Di sisi lain, Daeng Jamal mengakui tradisi tersebut memiliki risiko jika warga tidak berhati-hati ketika berebut.
“Walaupun terkadang agak sedikit mengerikan karena ada bambu-bambunya, alhamdulillah di sini aman dan masih bisa terkendali,” ujarnya.
Pelaksanaan yang berlangsung aman membuat tradisi tersebut dapat menjadi penutup perayaan tanpa menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan.
Pada akhirnya, perayaan Maulid Nabi di Pejagalan mempertemukan nilai keagamaan dengan ekspresi budaya masyarakat.
Keberagaman warga juga memberi warna tersendiri karena masyarakat dari berbagai daerah dapat berkumpul dalam satu kegiatan.
Bagi warga RT 06/RW 016, tradisi tersebut sekaligus menjadi kesempatan mempertahankan warisan budaya dan mempererat hubungan sosial.
Perayaan itu turut dihadiri Ketua RT 06 Amsar, Muhammad Sanika atau Abang Akom, serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh Ato
Ato adalah Redaktur TitikPublik.com yang bertanggung jawab dalam proses penyuntingan dan penyajian berita agar tetap faktual, berimbang, akurat, serta sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers.
