Hadapi Ancaman Karhutla, PalmCo Siagakan Ratusan Peralatan dan Satgas
- account_circle Ato
- calendar_month Minggu, 25 Okt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – PTPN IV PalmCo memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui sistem deteksi dini, kesiapan ratusan peralatan, pengerahan personel terlatih, serta bantuan bagi masyarakat terdampak kemarau dan kabut asap.
Perusahaan mengandalkan aplikasi Early Warning System (EWS) Karhutla yang terhubung dengan GeoPalm Dashboard untuk memantau titik panas dan membantu petugas merespons indikasi kebakaran.
Langkah tersebut terutama menyasar wilayah operasional Regional 3 di Riau dan Regional 5 di Kalimantan, yang menurut perusahaan menghadapi dampak kabut asap signifikan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan perusahaan mengintegrasikan teknologi pemantauan dengan kesiapan personel dan peralatan untuk mendukung penanganan sejak dini.
“Kami mengintegrasikan deteksi dini melalui aplikasi ‘EWS Karhutla’. Sistem ini membaca data titik panas secara real-time dan terhubung dengan GeoPalm Dashboard di pusat,” ujar Jatmiko.
Menurut dia, tim lapangan dapat memverifikasi indikasi yang terpantau dan mengambil langkah penanganan sebelum api membesar.
Selain memperkuat kesiapsiagaan operasional, perusahaan mempertahankan kebijakan zero burning atau tanpa pembakaran sebagai pedoman kegiatan perkebunan.
Di sisi lain, PalmCo menyalurkan bantuan air bersih dan masker untuk membantu warga menghadapi dampak kemarau serta penurunan kualitas udara.
Ratusan Peralatan untuk Mendukung Pencegahan
Untuk menunjang kesiapsiagaan, PTPN IV PalmCo menyiagakan berbagai perlengkapan individu, peralatan regu, sarana pemadaman, serta fasilitas komunikasi dan transportasi.
Data perusahaan mencatat 594 unit perlengkapan individu di Regional 3 Riau dan Regional 5 Kalimantan.
Selain itu, perusahaan menyiapkan 48 unit perlengkapan regu dan 155 unit peralatan tangan untuk mendukung kegiatan petugas di lapangan.
Dalam aspek pemadaman, PalmCo menyiagakan 80 unit pompa air beserta kelengkapannya.
Perusahaan juga menyediakan 80 unit sarana komunikasi dan transportasi guna mendukung mobilitas personel serta koordinasi saat menghadapi potensi kebakaran.
Sementara itu, sebanyak 41 unit infrastruktur deteksi dini cuaca mendukung pemantauan kondisi yang berkaitan dengan risiko karhutla.
Ketersediaan peralatan tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat kesiapan menghadapi potensi kebakaran, khususnya di kawasan yang rentan terdampak.
Namun, keberadaan sarana saja tidak cukup untuk memastikan penanganan berjalan efektif.
Petugas tetap memerlukan pemantauan berkelanjutan, verifikasi kondisi lapangan, koordinasi antarpihak, dan respons yang sesuai dengan tingkat ancaman.
Melalui EWS Karhutla, perusahaan memantau informasi titik panas sebagai peringatan awal.
Selanjutnya, GeoPalm Dashboard menghubungkan informasi tersebut dengan sistem pemantauan di tingkat pusat.
Jatmiko menjelaskan, integrasi itu membantu tim lapangan menindaklanjuti indikasi melalui pemeriksaan langsung.
Dengan demikian, perusahaan berupaya mempercepat langkah penanganan sebelum api meluas.
Meski begitu, informasi yang tersedia belum merinci jumlah titik panas yang terverifikasi, kejadian yang berhasil ditangani, maupun perubahan tingkat kebakaran setelah penerapan sistem tersebut.
Data tersebut penting untuk menilai efektivitas teknologi secara terukur dan memberikan gambaran yang lebih lengkap kepada publik.
Satgas Terlatih dan Koordinasi dengan Pemerintah
Selain mengandalkan sistem digital, PalmCo meningkatkan kesiapsiagaan melalui pengerahan Satuan Tugas (Satgas) Karhutla yang memiliki sertifikasi atau kompetensi terkait.
Jatmiko mengatakan perusahaan menambah pengerahan personel terlatih untuk mendukung penanganan potensi kebakaran.
“Kami menerjunkan lebih banyak personel terlatih. Armada transportasi darat yang biasa digunakan untuk operasional kebun juga kami konversi menjadi alat bantu pemadaman,” kata Jatmiko.
Perusahaan juga memanfaatkan armada transportasi darat yang biasa mendukung kegiatan perkebunan sebagai sarana tambahan dalam upaya pemadaman.
Menurut Jatmiko, seluruh pergerakan personel dan peralatan dikoordinasikan dengan pemerintah daerah serta otoritas terkait.
Koordinasi tersebut diperlukan agar upaya penanganan berjalan selaras dengan pihak lain yang memiliki kewenangan di wilayah terdampak.
Selain itu, kebijakan zero burning menjadi bagian dari pendekatan pencegahan yang menekankan pengurangan risiko munculnya api dalam kegiatan operasional.
Pendekatan ini menempatkan pencegahan sebagai langkah penting, bukan hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran terjadi.
Kendati demikian, perusahaan belum menyampaikan rincian jumlah personel yang dikerahkan, cakupan patroli, atau frekuensi pemeriksaan di lapangan.
Informasi tersebut dapat membantu publik memahami sejauh mana kesiapan operasional berlangsung dan bagaimana perusahaan mengukur hasilnya.
PalmCo Salurkan 11,2 Juta Liter Air Bersih
Respons perusahaan terhadap kemarau dan kabut asap juga mencakup bantuan sosial bagi masyarakat.
Jatmiko mengatakan dampak asap tidak hanya berkaitan dengan kegiatan usaha, tetapi juga memengaruhi kehidupan karyawan dan keluarga mereka yang tinggal di wilayah terdampak.
“Karyawan dan karyawati kami tinggal dan bekerja di wilayah terdampak. Mereka merasakan sendiri bagaimana sesaknya bernapas di tengah kepungan asap,” ujar Jatmiko.
Ia menjelaskan, perusahaan mengoptimalkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta menggabungkannya dengan donasi swadaya karyawan untuk membantu warga.
Melalui upaya tersebut, PalmCo menyalurkan 11,2 juta liter air bersih ke wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Bantuan itu ditujukan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air ketika kemarau mengganggu pasokan.
Selain air bersih, perusahaan mendistribusikan satu juta lembar masker.
PalmCo memprioritaskan pembagian masker di sekolah-sekolah untuk membantu mengurangi paparan asap pada anak-anak serta mendukung upaya pencegahan gangguan pernapasan.
Namun, data yang tersedia belum merinci periode distribusi, jumlah penerima manfaat, maupun pembagian bantuan di setiap wilayah.
Rincian tersebut diperlukan agar masyarakat dapat menilai jangkauan bantuan dan kesesuaiannya dengan kebutuhan warga.
Warga Sungai Bangkong Rasakan Manfaat Bantuan
Lurah Sungai Bangkong, Kalimantan Barat, Tri Marianingsih, mengatakan bantuan air bersih membantu warga yang mengalami kesulitan pasokan selama kemarau dan karhutla.
“Bantuan air bersih ini sangat berarti bagi warga kami yang sempat mengalami kendala pasokan air selama puncak musim kemarau dan Karhutla,” kata Tri.
Ia mengapresiasi bantuan tersebut karena menyentuh kebutuhan dasar masyarakat ketika pasokan air mengalami kendala.
Sementara itu, Bima Teja, warga Kelurahan Sungai Bangkong, Pontianak, menggambarkan kesulitan yang dihadapi keluarganya selama kemarau panjang.
Ia mengatakan sumur warga mengering, sedangkan asap tebal mengganggu aktivitas anak-anak di luar rumah.
“Sudah beberapa waktu terakhir kami kesulitan mendapat air bersih. Asap yang tebal juga sangat mengganggu aktivitas anak-anak di luar rumah,” ujar Bima.
Menurut Bima, bantuan air bersih dan masker membantu keluarganya menghadapi kondisi tersebut.
Kesaksian keduanya menunjukkan kebutuhan nyata yang dirasakan warga setempat, terutama terkait akses air bersih dan gangguan aktivitas akibat asap.
Meski demikian, pengalaman dua narasumber tersebut tidak serta-merta mewakili seluruh kondisi masyarakat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Edukasi Pembukaan Lahan Tanpa Bakar
Ke depan, PTPN IV PalmCo menyatakan akan terus menyiagakan personel dan peralatan untuk mendukung pencegahan karhutla.
Perusahaan juga berencana mendorong edukasi pembukaan lahan tanpa bakar kepada masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Edukasi tersebut diharapkan membantu meningkatkan pemahaman mengenai praktik pembukaan lahan yang tidak menggunakan api.
Pada saat yang sama, efektivitas pencegahan memerlukan konsistensi pemantauan, kesiapan petugas, dan koordinasi dengan pemerintah daerah serta otoritas terkait.
Pelaporan hasil penanganan secara terbuka juga dapat memperkuat akuntabilitas, terutama melalui data kejadian, hasil verifikasi titik panas, dan capaian mitigasi.
Adapun bantuan air bersih dan masker menunjukkan upaya perusahaan merespons kebutuhan masyarakat di tengah tekanan kemarau dan kabut asap.
Keberlanjutan langkah tersebut akan bergantung pada pelaksanaan pencegahan di lapangan, evaluasi berkala, dan kemampuan berbagai pihak bekerja sama mengurangi risiko kebakaran.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh Ato
Ato adalah Redaktur TitikPublik.com yang bertanggung jawab dalam proses penyuntingan dan penyajian berita agar tetap faktual, berimbang, akurat, serta sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers.
